Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan disembuhkan, asalkan terdeteksi pada stadium prakanker. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan berbagai organisasi kesehatan global secara konsisten mendorong dua metode deteksi dini yang telah terbukti efektif, yaitu Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan Tes Human Papillomavirus (HPV) DNA. Kanker serviks hampir 100% disebabkan oleh infeksi HPV risiko tinggi yang menetap. Metode deteksi dini berfungsi untuk mengidentifikasi sel-sel serviks yang abnormal (prakanker) atau untuk mendeteksi keberadaan virus penyebabnya, jauh sebelum sel kanker invasif terbentuk, sehingga intervensi pengobatan dapat dilakukan dengan sederhana dan cepat.
Tes IVA merupakan metode skrining primer yang sangat cocok untuk negara berkembang seperti Indonesia karena sifatnya yang cepat, murah, dan dapat dilakukan di tingkat layanan kesehatan dasar (Puskesmas). Prosedurnya sangat sederhana: dokter atau bidan mengoleskan larutan asam asetat (cuka dapur 3–5%) pada leher rahim (serviks) dan mengamati reaksinya dalam waktu sekitar satu menit. Jika ada sel prakanker, asam asetat akan menyebabkan area tersebut berubah menjadi putih (disebut acetowhite). Hasil positif IVA menandakan adanya lesi prakanker dan memerlukan tindak lanjut segera, seringkali dengan terapi ablasi seperti Krioterapi (pembekuan) yang dapat dilakukan saat itu juga (see and treat), tanpa perlu menunggu hasil laboratorium yang lama.
Sementara itu, Tes HPV DNA merupakan metode yang lebih modern dan sensitif. Tes ini tidak mencari perubahan sel seperti IVA atau Pap Smear, melainkan mencari keberadaan materi genetik (DNA) dari jenis-jenis HPV risiko tinggi (terutama HPV tipe 16 dan 18) yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus kanker serviks. Tes HPV sangat unggul dalam memprediksi risiko di masa depan, karena infeksi HPV mendahului perkembangan lesi prakanker. Menurut panduan terbaru, tes HPV dapat digunakan sebagai skrining primer, terutama pada wanita di atas usia 30 tahun, dan memiliki interval skrining yang lebih lama (setiap 5–10 tahun) dibandingkan IVA atau Pap Smear yang biasanya disarankan setiap 3 tahun.
Kesimpulannya, strategi terbaik untuk mengendalikan dan menurunkan angka kanker serviks adalah kombinasi antara pencegahan (vaksinasi HPV) dan deteksi dini yang teratur. Pilihan antara IVA dan Tes HPV DNA sering disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan infrastruktur. IVA menawarkan solusi cepat dan terjangkau untuk identifikasi lesi prakanker yang sudah ada, sementara Tes HPV DNA menawarkan prediksi risiko jangka panjang yang sangat akurat. Setiap wanita yang aktif secara seksual harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk menentukan jadwal skrining yang paling tepat bagi dirinya. Deteksi dini melalui salah satu atau kedua metode ini adalah kunci mutlak untuk memastikan kanker serviks dapat dihentikan sebelum merenggut nyawa.

No responses yet